Laman

Jumat, 10 Februari 2012

Seberapa pedulikah kita.....?!

Tidak mudah bagi ibu "C" menemukan formula dalam mengelola sebuah organisasi yang saat ini bergerak untuk melindungi perempuan pekerja sex atau lebih dikenal dengan istilah PPS. melakukan manajemen sebuah organisasi dengan karyawannya adalah perempuan mantan pekerja sex, sudah barang tentu sangat sulit untuk dikendalikan terlebih dalam kadar tertentu keinginan staff untuk kembali melakoni "aktor malam" sulit untuk dihindari. Perempuan-perempuan tersebut bergabung dalam satu wadah dengan nama " tiiiiiiiiit" yang dipelopori oleh salah satu profesor di negeri ini. organisasi ini merupakan satu-satunya organisasi di indonesia yang peduli terhadap para perempuan pekerja sex yang telah banyak dikenal banyak orang.



Organisai ini sangat unik dimana semua karyawannya adalah perempuan dan merupakan mantan perempuan pekerja Sex. bukan hanya itu, ada diantara karyawan perempuan ini yang juga merupakan mantan yang terlibat dalam pekerjaan sex sesama jenis atau lesbian.

coba anda bayangkan anda sebagai direkturnya yang harus membawahi perempuan-perempuan mantan pekerja sex yang kebanyak sulit dikendalikan, susah diatur, ngeyel, dan bahkan cenderung propokatif. sifat-sifat khas jalanan akan mereka bawa ke dalam sebuah ruangan yang dnamakan kantor, apalah jadinya?? belum tentu sesukses ibu "C" kan??

luar biasa memang, ternyata kabar denger kabar bahwa ibu "C" juga merupakan mantan pekerja sex, sehingga bawahannnya mudah untuk dikendalikan tanpa harus bersush payah.

tapi inilah kenyataan yang mungkin bagi sebagian orang akan terheran-heran mendengarnya terkecuali bagi mereka-mereka yang familiar di LSM ato masyarakat yang faham akan hal itu.

seberapa banyakah orang di negeri ini yang peduli terhadap kelompok seperti itu? bukankah mereka juga manusia dari jenis perempuan yang perlu memperoleh hak-hak nya sebagi warga negara, memiliki pekrjaan, berumahtangga dan bahkan agama? diakui atau tidak tokoh negara, tokoh masyarakat, tokoh adat dan apalagitokoh agama banyak mengecam perempuan pekerja sex ini. apakah mereka para pekerja sex menginginkan pekerjaan ini? tentu sangat tidak yakin kalau mereka memiliki jalan pekerjaan seperti ini.

itulah gunanya para tokoh, tidak lantas mencibir, menghakimi dan bahkan memperlakukan tidak adil terhadap mereka yang memilih pekerjaan ini sehingga menimbulkan persepi miring di masyarakat.

sudah selayaknya para tokoh ambil bagian untuk mendukung organisai ini, sehingga jumlah para perempuan pekerja sex dapat diminimalisir dan penularan penyakitpun dapat dicegah sedini mungkin. berikan kepada mereka kahlian dan keterampilan sehingga mampu bersaing dengan kemampuan yang mereka miliki. tokoh agama bisa masuk di sisi manapun terhadap organisai ini. bukankah agama mengajarkan bahwa jika ada orang yang berbuat salah harus diluruskan dan di peringatkan?? tidakkah semua agama mengajarkan bahwa jika ada orang yang salah cemoohkan dan kucilkan?? tentu hal ini harus menjadi renungan bagi semua pihak, sehingga masyarakat dapat hidup berdampingan dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar